Pagi ini, Jumat 6 Juni 2014, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) dan Ikatan Lulusan Universitas Indonesia (ILUNI) FEUI mengadakan kegiatan penganugerahan Penghargaan Wirakarya Adhitama (Lifetime Achievement Award) untuk Prof. Dr. Ali Wardhana.

Prof. Dr. Ali Wardhana lahir di Solo, Jawa Tengah, 6 Mei 1928. Pada 1958, pak Ali, begitu dipanggil, menyelesaikan pendidikan S1 di FEUI. Pak Ali adalah salah satu anggota penasehat ekonomi orde baru dan pernah menjabat sebagai Menko Ekonomi, Industri dan Pengawasan Pembangunan selama 5 tahun, yaitu antara tahun 1983-1988. Sebelumnya pak Ali pernah menjadi menteri keuangan selama 15 tahun untuk periode 1968-1983. Menteri Keuangan terkemuka ini menjabat Dekan FEUI selama 10 tahun, yaitu selama 1967-1978. Pada September 1971 ia terpilih sebagai Ketua Board of Governors Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional untuk periode 1971-1972. Artinya, dalam suatu periode pak Ali pernah memegang tiga jabatan penting secara bersama!

Sebagai Menteri Keuangan, pak Ali berperan besar untuk mengerem hyper inflation dalam waktu dua tahun pada periode 1966-1968. Setelah pada 1966 ada di angka 650 persen, pada 1967 laju inflasi dapat diturunkan menjadi 112 persen dan kemudian menjadi 85 persen di tahun 1968 dan kembali turun drastis ke 10 persen pada tahun 1969. Setelah stabil di tingkat yang rendah, barulah tahun pertama Pembangunan Lima Tahun (Pelita) dapat dimulai, tepatnya pada tanggal 1 April 1969.

Penghargaan Wirakarya Adhitama diberikan kepada tokoh-tokoh FEUI yang secara konsisten telah menunjukkan rekam jejak perjalanan yang panjang dalam memajukan dan mengembangkan FEUI sekaligus telah diakui secara luas sebagai tokoh bangsa yang sumbangan pemikirannya ikut menentukan arah, strategi, dan kebijakan pembangunan Indonesia.

Sebelumnya, penghargaan ini telah diberikan kepada Prof. Dr. Widjojo Nitisastro pada tahun 2008. Seperti halnyadengan Prof Ali Wardhana, Prof. Dr. Wdjojo Nitisastro telah memberikan sumbangsih yang besar bagi pembangunan bangsa. Legacy kedua Begawan tersebut diharapkan dapat menjadi lesson learned berharga bagi Indonesia.