Sugiharto

Sugiharto

Tolak Privatisasi Serampangan

Semula rekan-rekannya memprediksi Sugiharto ditempatkan di pos departemen perindustrian atau energi. Namun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono punya pertimbangan lain. Sugiharto dipercaya menjabat Meneg Pembinaan BUMN.

Sugiharto memang anggota dewan pakar PPP, tetapi sudah tiga tahun tidak aktif. Dia dipilih menjabat menteri lebih karena seorang profesional. Dia direktur keuangan sebuah perusahaan minyak nasional, Medco Energy International Tbk.

Privatisasi BUMN dan divestasi bank tidak lagi dilakukan serampangan. Ini janji Sugiharto setelah dilantik jadi menteri. Karenanya dia akan mengkaji kembali kedua program tersebut untuk disempurnakan. Pelaksanaannya harus memenuhi tiga persyaratan, waktu, harga dan jumlahnya.

“Maksudnya supaya jangan sampai ada aset negara yang dijual serampangan,” kata Sugiharto.

Setiap langkah privatisasi mesti dijelaskan kepada masyarakat, dilakukan secara bersih dan bertanggung jawab. Dia tidak ingin kementeriannya diintervensi atau jadi sapi perah kepentingan politik.

Tetapi Sugiharto tidak berani terlalu pagi menuding BUMN sebagai sarang korupsi, meski demikian dia tetap membuka Kotak 5000 untuk menampung pengaduan masyarakat. Ini sebagai faktor pencegah dan pengendali.

Sugiharto punya pengalaman panjang di lembaga keuangan Chemical Bank and Bankers Trust Company, New York. Dia punya kemampuan analisis yang prima. Bahkan, dia juga menjadi penakluk para bankir untuk mencairkan pinjaman dana. Tidak salah kalau pemilik Medco Grup, Arifin Panigoro, menunggu lima bulan ketika melamarnya bergabung ke Medco.

Pria kelahiran Medan, 29 April 1955 ini, setiap hari biasa bekerja sampai tengah malam. Dia Master of Business Administration (MBA) dari Universitas van Amsterdam, Belanda, 1997.

Dia juga bicara tentang program 100 hari pertama. Pemerintah, dalam memperbaiki ekonomi, harus kembali ke asal. Memperlihatkan orang-orang yang bisa diterima pasar. Ini akan menaikkan persepsi indeks. Sekarang, tingkat investasi Indonesia di grade B, satu langkah lagi ke grade BB.

Dana yang beredar di Asia, kata Sugiharto, mencapai triliunan dollar AS, mengincar tempat parkir. Mungkin nanti Indonesia kembali jadi rebutan investor. (tokohindonesia.com)

2016-07-26T03:27:06+00:00

Leave A Comment