Ingin Istiqomah Jadi Wakil Rakyat

Namanya mulai mencuat pada tahun 1998, ketika ia memimpin gerakan mahasiswa untuk merobohkan rezim Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun. Ia tidak pernah menyangka, apa yang ia dan teman-teman mahasiswa lainnya lakukan saat itu, akan membawanya sebagai anggota DPR RI.
Dia adalah Rama Pratama, Anggota DPR RI periode 2004-2009 dari PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Posisinya sekarang sebagai anggota dewan sangat menyita waktu. Sebagai sebuah pekerjaan politik, ia diharuskan membina hubungan dengan konstituen, membina hubungan dengan kekuatan-kekuatan civil society yang lain, LSM dan wartawan.
Rama diamanahkan menjadi anggota panitia anggaran di komisi XI yang menangani keuangan, perbankan dan perencanaan pembangunan.
Politikus muda berdarah minang ini sadar bahwa ia bisa menjadi anggota Dewan bukan karena kapasitas pribadi, tapi karena mesin partai. Sehingga ia pun ikhlas ketika sebagian penghasilannya harus diserahkan ke partai.
“Ini wajib dilakukan oleh setiap anggota dewan dari PKS, dan kami sadar, kami berada disini karena mesin partai, untuk itu diperlukan kesadaran dan disiplin yang tinggi, saya yakin semua partai melakukan itu, tapi setiap partai berbeda potongannya,” ungkapnya.
Rama dan Gerakan Mahasiswa Masa Kini
Menanggapi soal pergerakan mahasiswa saat ini, Rama mengatakan, pergerakan mahasiswa sekarang memiliki tantangan yang berbeda dengan gerakan mahasiswa 98. Menurutnya, sebuah pergerakan dapat bertahan kalau bisa mencermati perkembangan situasi dan bisa menjawab tantangannya yang ada.
Yang menjadi persoalan, menurut Rama, kebanyakan teman-teman mahasiswa sekarang salah menilai dan mengevaluasi kondisi dan situasi setelah 98.
Rama menjelaskan, pada tahun ’98, gerakan mahasiswa lebih bersifat politis dan fisik. Wacana tidak diperlukan, karena pada saat itu hanya ada pertarungan rezim dengan mahasiswa.
“Wacana yang lain tidak berani muncul, karena masih wait and see,” katanya.
Setelah 98, ujar Rama, masyarakat sempat dibuat bingung dengan wacana yang muncul. Sayangnya di tengah situasi seperti itu mahasiswa gagal mendominasi ruang publik, karena mereka cenderung menggunakan metode-metode yang sama seperti tahun ’98, padahal tantangannya sudah beda.
“Sekarang inilah saatnya pertarungan wacana, bukan lagi pertarungan fisik,” jelasnya

Rama Pratama, lahir di Jakarta, 17 November 1974. Sejak jadi aktifis mahasiswa sampai sekarang, Rama memegang teguh pandangan hidupnya yaitu melakukan semua aktivitas dengan diikuti nilai kebaikan dan amal sholeh.
Meski demikian, bukan berarti Rama tidak pernah mengalami batu sandungan dalam hidupnya. “Isu miring itu bukan berarti tidak ada, yang pasti saya akan tetap konsisten dan istiqomah,” ujarnya.
Rama masih ingat soal isu sogokan yang menimpa dirinya dan gerakan mahasiswa pada tahun1998 lalu. Sampai sekarang, bapak berputra dua ini, membantah isu tersebut.
Lebih lanjut Rama mengatakan, pergerakan mahasiswa pasca 98 mempunyai kepentingan yang berbeda. Dia melihat adanya orientasi keuntungan materi pergerakan itu yang justru merusak mental aktivis.
“Waktu 98 sih kita tidak mengerti, boro-boro ngebayangin keuntungan materi,” katanya sambil tertawa.
Rama dan Keluarganya

Soal keluarga, Rama punya pandangan sendiri soal keluarga sakinah. Keluarga sakinah menurut Rama, bukan berarti keluarga yang tanpa masalah. Tapi semuanya tergantung pada bagaimana sebuah keluarga menghadapi permasalahan itu. Untuk itu diperlukan komunikasi yang baik antara istri dan anak-anak, karena kalau tidak, akan menimbulkan salah paham satu sama lain.
Rama bertemu dengan istri tercinta, Alin Halimatus Sa’adiyah di kampus Universitas Indonesia Depok. Mereka kemudian menikah pada tahun 2000, dan sekarang sudah dikaruniai dua orang anak yaitu Muhammad Alaudin Zufar (5 tahun) dan Muhammad Rahman Fadhil (11 bulan).
Sejak di bangku sekolah dasar Rama memang sudah punya bakat jadi orang pintar. Sejak SD hingga SMP, Rama selalu mendapatkan ranking di kelas. Tapi memasuki sekolah menengah atas sampai bangku kuliah, Rama mengaku dirinya tidak lagi selalu mendapat peringkat pertama, karena banyaknya kegiatan organisasi yang diikutinya.
Keinginannya untuk melanjutkan studi ke luar negeri juga belum bisa terlaksana, karena padatnya kegiatan di Dewan.
Bagi Rama, ia tidak pernah khawatir ibadahnya akan terganggu dengan kesibukannya sebagai anggota dewan dari PKS, bahkan ia merasa nyaman, karena berada di lingkungan yang dikelilingi para ustaz. (Travel Sri WR/ln)eramuslim